Tren Bersepeda 2026: Ke Mana Arah Dunia Sepeda Bergerak?

Popularitas event bersepeda jarak jauh semakin meningkat

9 Januari 2026 - Melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, bersepeda tidak lagi sekadar aktivitas olahraga atau hobi akhir pekan. Ia sudah berkembang menjadi gaya hidup, sarana mobilitas, bahkan bagian dari ekosistem pariwisata dan komunitas. Memasuki 2026, tren bersepeda diprediksi akan semakin matang, beragam, dan relevan dengan tantangan perkotaan maupun kebutuhan eksplorasi alam.

Berdasarkan pertumbuhan event, komunitas, serta perubahan pola mobilitas masyarakat, arah perkembangan sepeda di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang semakin luas, tidak hanya berfokus pada performa, tetapi juga pengalaman, koneksi sosial, dan fungsi sehari-hari.

Berikut beberapa tren utama bersepeda yang diperkirakan akan semakin menonjol di 2026.


1. Event Bersepeda Jarak Jauh dan Ultra Cycling Akan Semakin Ramai

Bentang Jawa ultra cycling

Salah satu sinyal paling kuat dari perkembangan dunia sepeda saat ini adalah meningkatnya minat terhadap event bersepeda jarak jauh. Event dengan jarak 100 km ke atas, bahkan kategori ultra cycling, semakin sering digelar dan diminati.

Contohnya dapat dilihat dari berbagai event endurance dan gran fondo yang mulai rutin hadir, baik dalam format kompetitif maupun non-kompetitif. 

Berdasarkan laporan dari Mainsepeda, ambisi para debutan event jarak jauh juga meningkat, banyak pesepeda yang tidak lagi puas hanya menyelesaikan jarak pendek, tetapi ingin “naik level” ke tantangan yang lebih ekstrem.

Di 2026, tren ini diperkirakan akan berlanjut karena:

  • Pesepeda semakin tertarik pada pengalaman personal dan pencapaian jarak
  • Event endurance menawarkan kombinasi olahraga, eksplorasi, dan wisata
  • Komunitas mendorong anggota untuk mencoba tantangan baru bersama

Ultra cycling tidak lagi identik dengan atlet profesional saja, tetapi mulai terbuka bagi pesepeda rekreasional yang mempersiapkan diri dengan baik.


2. Sepeda Urban Semakin Populer sebagai Solusi Kemacetan

Commuting dengan sepeda urban

Kemacetan di kota-kota besar Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang. Di sinilah sepeda urban dan sepeda perkotaan mulai memainkan peran yang lebih serius, bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai solusi nyata mobilitas harian.

Model seperti city bike dirancang untuk kebutuhan praktis: posisi berkendara nyaman, mudah dikendalikan di lalu lintas, serta cocok untuk jarak pendek hingga menengah. Tren ini selaras dengan meningkatnya kesadaran akan efisiensi waktu, biaya, dan dampak lingkungan.

Di beberapa kota, bersepeda ke kantor atau ke pusat aktivitas mulai dilihat sebagai pilihan rasional, bukan sekadar gaya hidup.

Sepeda urban dinilai praktis karena:

  • Posisi berkendara yang nyaman
  • Mudah dikombinasikan dengan transportasi publik
  • Cocok untuk kebutuhan komuter harian

Meski infrastruktur belum sepenuhnya mendukung, tren penggunaan sepeda di area urban terus menunjukkan pertumbuhan. Banyak komunitas juga mulai aktif mempromosikan konsep commuting dan urban touring sebagai gaya hidup yang lebih efisien dan ramah lingkungan.


3. Munculnya Berbagai Jenis Sepeda Listrik Baru

Sepeda listrik terbaru: Polygon Tambora AE, Gili Dash, & Gili Velo

Tidak bisa dipungkiri, sepeda listrik menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan paling cepat. Di 2026, variasinya diperkirakan akan semakin luas; mulai dari city-oriented e-bike, e-commuter, hingga model hybrid yang menjembatani kebutuhan urban dan rekreasi.

Bagi banyak orang, sepeda listrik menjawab hambatan utama bersepeda: jarak jauh, medan menanjak, dan keterbatasan fisik. Dengan bantuan pedal assist, bersepeda menjadi lebih inklusif dan mudah diakses oleh berbagai kelompok usia.

Alasan utama popularitas sepeda listrik antara lain:

  • Membantu menjangkau jarak lebih jauh dengan usaha lebih ringan
  • Menarik bagi pengguna baru yang ingin bersepeda tanpa beban fisik berlebih
  • Fleksibel untuk kebutuhan urban maupun rekreasional

Sepeda listrik juga menjadi jembatan bagi banyak orang untuk kembali aktif bersepeda, terutama di kota dengan kontur menanjak atau rute panjang. 

Tren ini juga selaras dengan kebijakan global tentang transportasi ramah lingkungan. Meski tantangan regulasi dan infrastruktur masih ada, sepeda listrik berpotensi menjadi jembatan antara kendaraan bermotor dan sepeda konvensional.


4. Sepeda Gunung Kembali Naik Daun untuk Eksplorasi Alam

Eksplorasi alam dengan sepeda gunung

Setelah sempat fokus pada road dan urban riding, sepeda gunung diprediksi akan kembali mengalami kenaikan popularitas. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas luar ruang, eksplorasi alam, dan wisata berbasis pengalaman.

Banyak destinasi wisata kini menyediakan jalur khusus atau alam terbuka yang cocok untuk MTB. Sepeda gunung tidak lagi identik hanya dengan kompetisi downhill atau cross-country, tetapi juga sebagai alat eksplorasi santai di kawasan hutan, pegunungan, dan desa wisata.

Tren ini sejalan dengan meningkatnya minat terhadap eco-tourism dan aktivitas yang lebih dekat dengan alam, terutama pasca masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan fisik dan mental.

Sepeda gunung sering dipilih karena:

  • Fleksibel digunakan di berbagai medan
  • Cocok untuk wisata alam dan adventure ride
  • Banyak dipakai di area wisata berbasis alam

Di 2026, sepeda gunung tidak hanya identik dengan olahraga ekstrem, tetapi juga sebagai alat rekreasi keluarga dan eksplorasi destinasi lokal. Banyak tempat wisata mulai menyediakan jalur ramah sepeda, yang secara tidak langsung mendukung tren ini.


5. Komunitas Semakin Aktif Menggelar Fun Ride dan Event Sosial

Rodalink fun ride

Jika ada satu faktor yang membuat tren bersepeda terus bertahan, jawabannya adalah komunitas bersepeda. Di 2026, peran komunitas diprediksi akan semakin besar, bukan hanya sebagai penggerak event, tetapi juga sebagai ruang sosial.

Banyak acara fun ride kini dirancang lebih inklusif: tanpa batasan jenis sepeda, kecepatan, atau level pengalaman. Ini membuat lebih banyak orang merasa nyaman untuk bergabung dan bersepeda bersama.

Fun ride menjadi penting karena:

  • Terbuka untuk berbagai level pesepeda
  • Menguatkan aspek sosial dan kebersamaan
  • Menjadi pintu masuk bagi pesepeda baru

Komunitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai penggerak tren, edukasi, dan budaya bersepeda yang lebih sehat dan aman.


Tantangan Dunia Bersepeda di 2026

Di balik tren positif, ada beberapa tantangan yang masih perlu dihadapi.

Keterbatasan Infrastruktur

Jalur sepeda yang belum merata, konektivitas antarwilayah yang terbatas, serta minimnya fasilitas pendukung masih menjadi kendala utama. Tanpa dukungan infrastruktur yang konsisten, adopsi sepeda sebagai transportasi harian akan berjalan lambat.

Preferensi Kendaraan Bermotor Masih Kuat

Bagi sebagian masyarakat, kendaraan bermotor masih dianggap lebih praktis dan prestisius. Perubahan pola pikir membutuhkan waktu, edukasi, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan.


Kesimpulan

Melihat berbagai indikator yang ada, tren bersepeda di 2026 diperkirakan akan terus berkembang dengan arah yang semakin beragam. Event jarak jauh dan ultra cycling akan makin ramai, sepeda urban dan sepeda perkotaan tetap relevan di tengah kemacetan, sepeda listrik semakin diterima, dan sepeda gunung mendapat ruang lebih luas sebagai alat eksplorasi alam.

Di sisi lain, peran komunitas bersepeda akan semakin penting dalam menjaga semangat, inklusivitas, dan keberlanjutan budaya bersepeda. Meski tantangan infrastruktur dan kebiasaan masih ada, tren bersepeda menunjukkan bahwa sepeda bukan lagi sekadar alat olahraga, tetapi bagian dari gaya hidup dan mobilitas masa depan.

Mau cari sepeda baru buat sambut tren ini? Cek rekomendasi kami adalam artikel “Rekomendasi Sepeda Baru untuk 2026”.

Benefit Ekstra untuk Member Kami

Copyright © 2024 PT Rodalink Indo Tama. All rights reserved.
login